Aku memilih diam
Oleh : Nurul Jannah Karena aku tak lagi merasa perlu menjelaskan diriku kepada siapa pun, yang sejak awal telah memutuskan untuk tidak adil. Tidak semua kebisingan layak ditanggapi. Tidak semua tuduhan pantas diluruskan. Dan tidak semua orang berhak atas klarifikasi hidup, yang tidak pernah mereka jalani. Diamku bukan reaksi. Ia adalah keputusan. Keputusan untuk menarik batas, mengunci pintu, dan berhenti memberi akses kepada mereka yang menjadikan kata-kata sebagai senjata. Aku pernah berada di fase di mana kebenaran terasa sangat penting, di mana meluruskan dianggap perlu, di mana membela diri tampak masuk akal. Kini tidak lagi. Karena aku telah memahami satu hal pahit, bahwa kebenaran tidak pernah benar-benar dicari oleh mereka, yang hidup dan bernapas dari prasangka. Ada orang-orang yang tidak mendengar untuk memahami. Mereka mendengar untuk menyerang. Bagi mereka, penjelasan hanyalah celah, dan keheningan selalu ditafsirkan sebagai kelemahan. Mereka keliru. Diam bukan kelema...