Penutup Masa Kampanye, Akankah Kekuasaan Politisi Mengalahkan Kuasa Tuhan?


Masa kampanye telah berakhir, saatnya memasuki minggu tenang. Namun segala yang berbau politik masih jadi topik hangat bahkan panas!. Diskusi di ruang publik terasa sangat mencekam!. Semua tentang politik.

Yang saya tahu, politik itu tidak hitam putih. Yang terlihat putih, saya sering temukan hitamnya luar biasa. Yang terlihat hitam, saya pernah alami sangat putih tulus.

99% politisi tidak akan menyampaikan apa adanya tapi akan selalu ada apanya ( "transaksional"). Namun 100% (harusnya) kita percaya ada kekuatan yang lebih berkuasa dari semua politisi dan pemimpin negara ini yaitu Tuhan Yang Maha Esa.

Mari kita percayakan bahwa Dia masih berkuasa.

Narasi publik akhir-akhir ini sangat meresahkan. Mayoritas isinya (fear mongering (penjual rasa takut). Seolah dunia kita atau Indonesia itu hancur atau pasti akan hancur.

Benarkah demikian?

Bagaimana jika kita melihat data?

Bagaimana fakta kekuatan ekonomi negara kita saat ini?

Bagaimana posisi Indonesia di dunia?

Not yet the best, but not the worstworst (Belum menjadi yang terbaik, tapi juga bukan yang terburuk). 

Saya menulis ini karena resah melihat komunikasi di negara kita saat ini di dominasi narasi putus asa.

Kemanakah Ketuhanan Yang Maha Esa kita?

Saya tetap percaya semua di dunia ini hanya bisa terjadi jika Tuhan menyetujuinya.

Termasuk covid.

Karena saya percaya ke MAHAan-Nya

Kita memang bisa berpikir secara mandiri dengan narasi yang tetap positif.

Bukan mengeskalasi emosi negatif seolah bangsa kita akan hancur tanggal 14 Februari besok. 

Dulu 2019 pendukung Prabowo sudah yakin 100% kalau Presiden Indonesia-nya Joko Widodo maka Indonesia hancur.

Namun, pembangunannya berbeda, kondisinya berbeda, tapi tidak hancur juga.

Pemikiran katastropik cenderung menghancurkan. Pola pikir kritis dan rasional berbasis data tetap kita butuhkan dan tentu kehadiran literasi dalam hidup bermasyarakat dibutuhkan untuk narasi yang konstruktif. Dan terbuka untuk ruang koreksi.

Contoh dialog yang beredar di ruang digital publik. Apakah bansos lebih berkuasa daripada Tuhan Yang Maha Esa? Dimanakah posisi keimanan bangsa & negara kita tentang Tuhan YANG MAHA dan tidak bisa diatur oleh siapapun?

Tapi konteks yang saya sampaikan adalah, ketika ada orang yang berpikir Jokowi (misalnya) bisa mengatur MK, bisa mengatur bansos, sampai bisa mengatur hasil Pemilu, dimanakah porsi Tuhan dalam kondisi yang seolah semuanya diatur oleh 1 manusia yang bernama Jokowi?

Itu konteksnya.

Kok yakin sekali bahwa manusia bisa mengendalikan hasil?

Dalam dinamika politik praktis di lapangan saat ini religi dan religiusitas menjadi komoditas yang luar biasa. Bagi saya itu ruang komunikasi privat kita dengan Tuhan . Ketika masuk ke ruang publik, doa dan aktivitas religius lain rawan dipolitisir. Tapi sebagai sebuah ekspresi sastrawi semacam puisi ketika ditulis dan diucapkan dengan tulus akan menjadi spirit kesadaran religiusitas. Tapi, di tahun politik semua rawan dipolitisir.

Namun perlu di ingat, bahwa di atas kekuasaan politisi yang paling berkuasa sekalipun, masih ada kekuatan Yang Maha Kuasa yaitu Tuhan. Itu saja. Tak perlu terlalu resah, karena takdir dunia bukan di tangan manusia, tapi berada di tangan Raja Manusia dan sekalian alam raya. Bukan di tangan 01, 02 atau 03 !.  (DPT)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RENCANA PEMBANGUNAN FLY OVER SITINJAU LAWIK DI LUBUK KILANGAN, APA PERAN DAN FUNGSI KERAPATAN ADAT?

Kepemimpinan Kolektif di Minangkabau, Urang Nan Ampek Jinih dan Jinih nan Ampek

LAHIRNYA FORUM NAGARI DI LUBUK KILANGAN, DITINJAU DARI ASPEK HISTORIS