PENYEBAR HOAX DIMASUKKAN ALLAH KEDALAM GOLONGAN ORANG FASIK DAN BODOH (Al-Hujurat Ayat 6)

 


Oleh : Dodi Putra Tanjung

Berbeda pilihan itu sangat biasa, selesai kompetisi yang kalah dan yang menang duduk bersama sambil ngopi dan tertawa tawa pun hal biasa,. 

Yang tidak biasa dan tidak layak dilakukan itu adalah memecah belah, mengadu domba, menggiring opini, menyiarkan informasi yang salah dan tidak benar, padahal tidak seperti itu kejadian, waktu dan situasinya. 

Berbeda antara gambar, video dan narasi. 

Inilah yang disebut hoax atau fitnah yang besar. 

QS. Al-Hujurat Ayat 6, artinya :

"Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu".

Tafsir QS. al-Hujurat: 6 ini juga memberikan pemahaman bahwa sebelum menerima atau menyebarkan suatu berita, hendaklah ber-tabayyun atau mengecek, apakah berita yang diterima dan akan disebarkan tersebut tidak mengandung unsur kedustaan atau dapat merugikan orang lain.

Sebagai bentuk kewaspadaan, pada ayat ini (Hujurat ;6) Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman supaya benar-benar meneliti berita yang berasal dari orang-orang yang fasik, sehingga nantinya tidak ada yang mengambil keputusan dan melakukan tindakan berdasarkan perkataan dari orang fasik tersebut.

Maraknya isu hoaks ini juga tidak terlepas dari rendahnya literasi dan budaya baca dikalangan masyarakat kita. Termasuk juga tidak paham teknologi digital yang memudahkan orang untuk mengedit photo dan video untuk kepentingan mereka. Kemudian di share diberbagai platform media sosial secara acak dan berulang. Dan dianggap benar oleh masyarakat yang rendah literasi (Budaya baca) serta gagap teknologi.

Agama islam menganjurkan ummatnya untuk berhati-hati dan selalu mengecek informasi dan berita yang diterima terlebih dahulu. Secara bahasa keagamaan hal ini disebut tabayyun.

Para penggiat media sosial yang diharapkan sebagai penyeimbang justru juga ikut memainkan peran men-share dan mempublikasikan berita-berita yang berisi narasi provokasi dan ujaran kebencian yang menyerang para kontestan pemilu, baik itu piplres maupun pileg. 

Nah, terkait fenomena tersebut, penulis menghimbau kepada penggiat media sosial, khususnya generasi milenial dan para influencer untuk bisa menjadi tameng memberikan pencerahan kepada masyarakat akan bahaya berita hoax dan berita fitnah jelang dan sesudah perhelatan pemilu ini. Kita tidak berharap masyarakat terbelah lagi seperti pemilu pada periode lalu. Cukup saja aksi demontrasi yang berujung anarkis seperti pemilu yang lalu baik, itu pilpres 2019 ataupun pilkada DKI 2017, tidak terjadi lagi pada pemilu 2024 yang telah selesai dan dalam proses penghitungan suara saat ini. 

Cukuplah isu agama dihembuskan untuk menghantam lawan politik dan pemilih yang berbeda pilihanya, cukuplah isu PKI dan komunis dituduhkan kepada pihak yang tidak sehaluan, cukuplah isu etnis yang membuat jarak antar anak bangsa, cukuplah narasi Indonesia akan hancur dan sebagainya, cukuplah! 

Yang jelas Pemilu ini sudah kita jalani sesuai pilihan masing-masing. Segala ikhtiar sudah dilakukan untuk paslon masing-masing. Hasilnya percayakan saja pada Taqdir dan kuasa Tuhan. Kalau memang kita ber-Tuhan. 

Mari bersama kita menjadi pemersatu di Republik ini. Melawan hoax berarti memberantas kebodohan dan pembodohan. Menghindari dosa fitnah dan ghibah.

Stop Hoax, gunakan akal sehat. Mari rawat persatuan dalam ke Bhineka-an, Hiduplah Indonesia Raya. (*) 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

RENCANA PEMBANGUNAN FLY OVER SITINJAU LAWIK DI LUBUK KILANGAN, APA PERAN DAN FUNGSI KERAPATAN ADAT?

Kepemimpinan Kolektif di Minangkabau, Urang Nan Ampek Jinih dan Jinih nan Ampek

LAHIRNYA FORUM NAGARI DI LUBUK KILANGAN, DITINJAU DARI ASPEK HISTORIS