Bukan Cuma Jokowi, Kita Juga
Dalam hidup–biasanya ada manusia yang runtuh oleh pujian, dan ada manusia yang patah oleh cacian. Sedangkan Jokowi, tampaknya bukan keduanya. Lebih jauh lagi–secara faktual–Jokowi saat ini juga mendapatkan "serangan" dari berbagai arah. Dari luar (dirinya), ia diserang oleh berbagai fitnah dan penghinaan–dan dari dalam (dirinya), oleh kondisi tubuh yang tak lagi sepenuhnya ramah. Dan yang paling menarik bukanlah semua "luka" itu–tetapi caranya berdiri di hadapan luka, caranya menyiasati luka. Dari sini kita mulai paham: kekuatan Jokowi bukanlah pada kemampuan membantah, melainkan pada kemampuan tidak merasa perlu membalas. Itu karena ia sudah selesai dati kebutuhan untuk diakui, dan dari sinilah keteguhannya berasal. Orang yang masih lapar pengakuan akan mudah tersinggung, sementara orang yang sudah kenyang makna akan tetap tenang.
Sejak awal, hidup Jokowi adalah perjalanan yang ditempa oleh proses, bukan karpet merah. Dari bantaran kali, lorong-lorong pasar, kantor walikota, balai gubernur, hingga Istana. Ia tidak naik dengan loncatan yang melenting, melainkan dengan langkah menapaki anak tangga. Proses panjang itu membentuk satu hal penting: "daya tahan batin". Batin yang paham bahwa badai selalu datang. Selalu. Dan benteng terbaik mengahadapi badai cuma kerja dan ketulusan. Itu sebabnya dengan kepala tegak, saat ini–di tengah badai serangan dari luar diri dan dalam dirinya–ia tetap menerima pinangan untuk menjadi Dewan Penasihat Bloomberg New Economy. Maka ketika kini rambutnya rontok dan kulitnya berubah, ia tidak sedang kalah–ia sedang jujur pada waktu. Ketika ia tertawa bersama cucu dan menerima rakyat tanpa henti dan tanpa sekat, itu bukan lagi pencitraan, tetapi keberanian paling hakiki: "berdamai dengan diri sendiri".
Nampaknya, itu adalah rahasia seorang Jokowi. Ia tidak lagi menggantungkan harga dirinya pada tepuk tangan atau cacian. Ia menggantungkannya pada karya, pada manfaat, pada keyakinan bahwa hidup tak perlu selalu dibela–cukup dijalani dengan lurus.
Dan orang yang hidupnya lurus, tak akan pernah benar-benar roboh. Begitulah. Bukan cuma Jokowi, kita juga. (*)

Komentar
Posting Komentar